belanja

Ungkapan Soekarno dalam yang dikuti
oleh Arif Zulkifli mengatakan Beri aku sepuluh
golongan tua maka akan kuguncangkan gunung semeru sampai ke akar-akanya, tapi
berikan aku sepuluh golongan muda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan
aku akan guncangkan dunia”[1].
Nadiem Makarim sebagai mentri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia yang
dikutip oleh Lany Fitriana dalam artikel Cerdas Berkarakter mengatakan “jadilah
generasi emas untuk terus berkarya dengan memfokuskan pada kolaborasi generasi
dan lintas bidang profesi. Terapkan 6 Nilai Profil Pelajar Pancasila dalam
kehidupan dan karir generasi muda.”[2]
Penjelasan Soekarno dalam pidatonya dan Nadiem dalam acara Talk Show-nya tersebut memberikan
semangat kepada kaum muda yang harus bisa mengguncangkan dunia membawa nama
Indonesia semakin dikenal oleh seluruh negara yang ada di dunia ini dan menjadi
generasi emas yang berkarakter. Akan tetapi dalam tahap untuk mengguncangkan
dunia dan menjadi generasi emas harus adanya usaha secara sadar menjalani
pendidikan secara formal, informal, dan non formal yang harus dilakukan. Yang artinya pendidikan memang harus
dilakukan oleh kaum muda yang mempunyai masa depan panjang dan berkembang. Soekarno
pun sangat mementingkan pendidikan untuk bangsa Indonesia sendiri. Karena,
hanya pendidikan lah yang bisa menjadi ujung tombaknya kemajuan suatu bangsa.
Sedangkan Nadiem sebagai Mentri Pendidikan dan Kebudayaan saat ini mempunyai
tanggung jawab besar terhadap pendidikan di Indoenesia.
Pendidikan yang selalu dikaitkan dengan
pengajaran dan pengajaran harus adanya pengetahuan secara keilmuan maupun
empiris. Pengetahuan yaitu sesuatu yang kita ketahui melalu beberapa proses
kita dalam mencari tahu. Ini bukanlah suatu definisi yang konkrit, akan tetapi
sudah lumayan dalam menjelaskan tentang pengetahuan.
Abudin Nata dalam
Filsafat Pendidikan Islam mengatakan “permasalahan tentang pendidikan yang
dimana menurut bahasa Indonesia, kata Pendidikan berasal dari kata didik yang
mendapatkan awalan ‘pen’ dan akhiran ‘an’. Kata tersebut
sebagaimana dijelaskan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah perbuatan,
(hal, cara, dan sebagainya) mendidik.”[3]
Seorang ahli saraf dan psikolog, Howard
Gardner telah menemukan kecerdasan majemuk (Multiple Intellegence),
penelitian yang menemukan sebuah potensi dalam diri manusia. Beragam kecerdasan
ditemukan dari hasil kerja otak, diantaranya kecerdasan adalah: kecerdasan
intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan
spiritual (SQ).[4]
Kecerdasan intelektual (IQ)
merupakan kecerdasan yang paling mendasar. Tetapi penggunaan IQ
belum dikatakan efektif jika tidak diimbangi dengan kecerdasan emosional (EQ).
setelah IQ dan EQ maka muncullah jenis
kecerdasan yang menyempurnakan kecerdasan IQ dan EQ
yaitu kecerdasan spiritual (SQ).[5]
Pendidikan karakter sudah bisa dikembangan
pada masa usia perkembangan, maka dari itu kecerdasan spiritual bisa diasah
dengan bantuan tenaga pendidik, orang tua, dan lain-lain, pentingnya menanamkan
pendidikan karakter agar mental, jasmani, dan ruhaniyah tetap stabil membuat
hidup lebih bermakna karena banyak esensial dalam pendidikan spiritual.
Pembentukan karakter yang bisa terjadi antara dua faktor yaitu faktor
internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang menurut Mounier yang
dikutip oleh Maragustam[6],
karakter yang murni dari kondisi yang telah diberikan begitu saja murni ada
dalam diri kita sebagai karakter yang natural, sedangkan faktor eksternal
seseorang yang mencari jati diri (karakter) untuk merubah karakter alamiyahnya
menjadi seorang yang mempunyai karakter kuat.
Sedangkan menurut Soekarno sebagai pemimpin
pertama Republik Indonesia juga sangat menaruh perhatian serius tentang
Pendidikan di Indonesia. Hal ini didukung oleh Cindy Adam “mungkin berangkat
dari pengalaman Soekarno ketika sekolah di ELS dulu, yaitu adanya perlakuan
diskriminatif antara anak-anak Belanda dengan Pribumi, yang menyebabkan
anak-anak Pribumi kurang begitu diperhatikan dan kurang diberi fasilitas yang
cukup untuk belajar sebagaimana yang didapat anak-anak Belanda. Di samping itu,
karena Soekrano juga anak seorang guru maka sedikit banyak tentu dia
berkomunikasi (berdiskusi) dengan ayahnya perihal permasalahan-permasalahan
yang terjadi pada pendidikan di Indonesia.[7]
Bila di zaman Soekarno masih ada perlakuan diskriminatif kepada siswa
pribumi, karena kondisi bangsa yang sedang dijajah oleh sistem feodalisme, dan
kapitalisme, maka pendidikan untuk siswa pribumi sangatlah terbatas. Padahal
semangat juang siswa-siswa pada masa penjajahan sangat lah tinggi dalam mencari
ilmu dan dengan semangat bercita-cita untuk menjadi orang sukses dan
memerdekakan bangsanya sendiri.
Sejak pemikiran
manusia memasuki tahap positif dan fungsional sekitar abad ke-18, krisis moral
yang melanda segala golongan sampai meracuni atmosfir birokrasi negara mulai
dari level paling atas sampai paling bawah.[8]
Munculnya fenomena white collar crimes (kejahatan kerah putih atau kejahatan
yang dilakukan oleh kaum berdasi, seperti para eksekutif, birokrat, guru,
politisi atau setingkat dengan mereka), serta isu KKN (Korupsi, Kolusi, dan
Nepotisme) yang dilakukan para elit, merupakan indikasi kongkrit bangsa
Indonesia sedang mengalami krisis multidimensional.
Realitas diatas
mendorong timbulnya berbagai gugatan terhadap efektivitas pendidikan agama yang
selama ini dipandang oleh sebagian besar oleh masyarakat telah gagal dalam
membangun afeksi anak-anak didik dengan nilai-nilai yang eternal serta mampu
menjawab tantangan zaman yang terus berubah. Mengutip dari A. Qodri Azizy
berkesimpulan bahwa Sistem pendidikan yang dipakai terlalu mengacu pada sisi
nilai kognitif saja, sehingga melahirkan output (lulusan) yang cerdas tapi
tidak bermoral.[9].
Sedangkan masih ada aspek yang vital yaitu Afektif dan Psikomotor terabaikan
begitu saja.
Fenomena di
atas tidak terlepas dari adanya pemahaman yang kurang benar tentang agama dan
keberagamaan (religiusitas). Agama sering kali dimaknai dangkal, tekstual dan
cendrung eksklusif. Nilai-nilai agama hanya dihafal sehingga hanya berhenti
pada wilayah kognisi, tidak sampai menyentuh aspek afektif dan psikomotorik.
Keyakinan terhadap motivasinya yang tinggi membuat nilai spiritualitas
yang positif dan membawa fisik kepada arah yang positif juga. Tingkah laku dan
prilaku juga menjadi terbawa karena spiritual dalam diri yang sangat tinggi,
tidak lupa karakter untuk sebagai seorang nasionalis juga sangat muncul tinggi,
serta iringan doa untuk selalu mengingat kepada Tuhan yang maha esa. Karena
sadar karakter religius pun sangat dibutuhkan untuk mendongkrak semangat.
Secara akademis
Karakter spiritual bila tidak dibarengi dengan karakter nasionalis, kemungkinan
tidak akan memiliki rasa cinta terhadap tanah airnya sendiri atau bisa disebut
dengan hanya mementingkan nilai agama yang dianutnya. Sedangkan hidup di dunia
ini terdiri dari bangsa-bangsa dan negara yang ditinggalinya. Sedangkan
kecintaan terhadap tanah air sendiri kemungkinan agama tidak akan melarangnya karena
masih berada pada titik kebaikan.
Sebanding
dengan seseorang yang hanya hidup dengan karakter nasionalis tanpa adanya
karakter religius, maka hidupnya hanya akan mementingkan duniawi dan diri
sendirinya tanpa adanya pedoman yang dipercayainya (hidup dengan nilai yang
abstrak), akan membawa kepada sifat yang kemungkinan sombong Sedangkan suatu
daerah atau bangsa biasanya memiliki aturan dan norma tatanan hidupnya agar
memiliki arah dan tujuan,
Berarti kita
hidup harus memiliki pedoman konsep hidup di suatu negara mengikuti aturan
hidup di negara tersebut tanpa melupakan ajaran nilai-nilai agama yang kita
anut. Jangan memiliki konsep hidup untuk mengutamakan nilai-nilai agama yang
kita anut secara berlebihan tapi melupakan aturan hidup yang sudah ditentuka
oleh suatu negara. Jadi bisa menyeimbangkan mana kepentingan negara dan
kepentingan agama.
Berbanding terbalik dengan kondisi pada zaman ini yang serba modern dan
tidak adanya diskriminatif terhadap SARA apapun. Karena sudah diatur dalam UUD
Republik Indonesia dan sila ketiga pada Pancasila. Semangat juang dalam mencari
ilmu yang dirasa kurang berminat dan motivasi yang tidak menggerakan fisik
kepada kearah yang lebih baik.
Karakter religius yang rendah, karena kepercayaan kepada batinnya
sendiri seperti sudah dihapus dalam otaknya dan beranggapan hati adalah organ
tubuh yang tidak memiliki rasa apapun. Karakter nasionalis yang muncul tapi
dalam keadaan yang terbalik, seperti ketika bangsa sedang hancur, dia hanya
berkoar-koar dan menyalahkan petinggi bangsa yang kerjanya kurang memuaskan
untuk membawa martabat bangsa kearah yang lebih baik lagi. Sedangkan ketika
bangsa sedang berada diatas, dia hanya sirik, iri, dan dengki kepada petinggi
bangsa dan merasa dirinya bisa bekerja melampaui keadaan.
Sedangkan bila
merelevansikan dengan fenomena saat ini bahwa negara Indonesia sudah melahirkan
praktik kurikulum yang baru yaitu kurikulum merdeka. Dengan jargon yang
dikeluarkan dalam kurikulum tersebut yaitu berbudi luhur dan profil pelajar
Pancasila. Lalu sangat selaras dengan tujuan penelitian ini yang ingin
merelevansikan antara nilai pendidikan karakter religius dengan karakter
nasionalis perspektif Soekarno dan relevansinya dengan profil pelajar Pancasila
dalam kurikulum merdeka atau MBKM.
Secara kasat mata sangat ada relevansi antara hasil karya pemikiran
Soekarno dengan kurikulum saat ini yang lebih menekankan kepada kokurikuler
dengan berbudi luhur dan 6 profil pelajar Pancasila. Sedangkan yang mencetuskan
Pancasila adalah Soekarno sendiri salah satunya sehingga menjadikan Pancasila
sebagai ideologi Indonesia. Nilai karakter religius terdapat pada profil
pelajar Pancasila yang pertama yaitu beriman bertaqwa, dan berakhlak mulia[10]
sangat relevan dengan teori dan konsepnya Soekarno ketikan mendapatkan ilham
dan kematangan dalam agama untuk menciptakan negara yang merdeka secara agama
dan mencita-citakan negara yang beragama.[11]
[1]Arif
Zulkifli, Sukarno: Paradoks Revolusi
Indonesia, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2017), h. 4.
[2]Lany
Fitriana et al., “Talkshow Pelajar Pancasila Generasi Emas “Jadilah Generasi
Emas, Cerdas Berkarakter itu Kita” Cerdas Berkarakter, No. 1, (Maret 2021), https://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/talkshow-pelajar-pancasila-generasi-emas-jadilah-generasi-emas-cerdas-berkarakter-itu-kita/ (accessed
December 09, 2022)
[3] Abudin Nata, Filsafat
Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2009), h. 4.
[4]Suyadi,
Teori Pembelajaran Anak Usia Dini dalam Kajian Neurosains, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2012), h. 139.
[5]Amien
Rais, Astuti Budi Handayani, dan Suyadi, “Pengembangan Kecerdasan Spiritual
dalam Pendidikan Islam dengan Pendekatan Neurosains”, 09, 02, Desember 2019, h.
132.
[6]Maragustam,
”Filsafat Pendidikan Islam Menuju
Pembentukan Karakter”, (Jogjakarta: FITK UIN-SUKA, 2020), h. 123.
[7]Cindy
Adams, Soekarno:Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, (Jakarta: Yayasan
Bung Karno, 2018),h. 87.
[8]Asmaun
Sahlan, Mewujudkan Budaya Religius di
Sekolah (Upaya Mengembangkan PAI dari Teori ke Aksi), (Malang: UIN Maliki
Press, 2010), Cet ke-1, h. 66
[9]A.
Qodri Azizy, Pendidikan (Agama) untuk Membangun Etika Sosial: Mendidik Anak
Sukses Masa Depan: Pandai dan Bermanfaat, (Semarang: Aneka Ilmu, 2002), H. 8
[10]Dianiel
Zuchron, Tunas Pancasila, (Jakarta:
Direktorat Jendral PAUD Dikdas dan Dikmen Kementrian Pendidikan, Kebudayaan,
Riset, dan Teknologi, 2021), H. 65.
[11]Cindy
Adams, Sekarno: Penyambung Lidah Rakyat,… hlm. 88.







